From: Nunu Nugraha <nunos82@gmail.com>
Date: Fri, 31 Jul 2009 11:42:59 +0000
Subject: Fwd: Recommended Article By Nunu: Sesungguhnya Allah
Mendengar Do'a Hamba-Nya
To: Nunos_82.yumna@blogger.com
---------- Forwarded message ----------
From: Nunu <Nunos_82@yahoo.co.id>
Date: Thu, 30 Jul 2009 21:32:35 -0700
Subject: Recommended Article By Nunu: Sesungguhnya Allah Mendengar
Do'a Hamba-Nya
To: Nunos82@gmail.com
Hi Nugraha,
Your friend, Nunu, has recommended this article entitled 'Sesungguhnya
Allah Mendengar Do'a Hamba-Nya' to you.
Here is his/her remarks:
Buletin
Sesungguhnya Allah Mendengar Do'a Hamba-Nya
Posted By admin On 16 July 2009 (10:03) In At Tauhid Tahun V, Tazkiyatun Nufus
At Tauhid edisi V/29
Oleh: Hanif Nur Fauzi
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, do'a
merupakan bentuk ibadah yang paling agung di sisi Allah ta'ala.
Diriwayatkan dari shahabat Nu'man bin Basyir radhiyallahu'anhu bahwa
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Do'a adalah ibadah",
kemudian setelah itu beliau membaca ayat "Berdo'alah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam
keadaan hina dina" (QS. Ghafir: 60) (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Adabul Mufrad no.714)
Di dalam hadits lain Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
tentang keutamaan do'a, "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi
Allah ta'ala selain do'a" (HR. Ahmad no. 8733. Syu'iab Al Arnauth
berkata bahwa hadits ini hasan)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menyebutkan bahwa do'a adalah
ibadah, artinya, do'a adalah rukun utama dalam ibadah kepada Allah
ta'ala. Oleh karena itu, barang siapa yang enggan dan malas-malasan
dalam beribadah, dapat dipastikan bahwa orang tersebut enggan untuk
berdo'a dan memohon hidayah kepada Allah ta'ala . (Lihat Fathul Baari,
18/55)
Do'a merupakan kunci dari segala macam kebaikan. Seorang hamba tidak
akan mampu untuk melaksakan ketaatan kepada Allah ta'ala melainkan
dengan taufiq dan hidayah dari Allah ta'ala. Taufiq dan hidayah Allah
tidak lepas dari do'a seorang hamba kepada Rabb-nya. Oleh karena itu,
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam mengajarkan sebuah do'a kepada
Mua'dz bin Jabal radhiyallahu'anhu agar dibaca setiap selesai sholat
"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik" [Ya
Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur
kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu]". (Sunan Abu Daud,
1522. Syaikh Al Albani berkata hadist ini shohih)
Allah ta'ala menjanjikan akan mengabulkan do'a setiap hamba-Nya dan
Allah ta'ala tidak akan menyelisihi janjinya. Bahkan Allah ta'ala akan
marah ketika ada seorang hamba yang enggan berdo'a kepada-Nya.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Barangsiapa yang
tidak mau berdo'a kepada Allah ta'ala, maka Allah murka kepadanya"
(HR. Tirmidzi no.3373. Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan). Ath
Thibiy rahimahullah mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa Allah
ta'ala sangat senang ketika seorang hamba berdo'a kepada Allah ta'ala.
(Lihat Fathul Baari, 18/55)
Berdo'alah Hanya Kepada Allah Ta'ala
Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta'ala, do'a merupakan salah
satu bentuk ibadah kepada-Nya, dan ibadah hanyalah hak mutlak Allah
ta'ala, tidak ada satu pun bentuk ibadah dari seorang hamba yang boleh
ditujukan kepada selain Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman (yang
artinya), "Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang berdo'a
kepada selain Allah, tidak ada yang dapat memperkenankan do'anya
sampai hari kiamat, dan mereka adalah orang-orang yang lalai dari do'a
mereka" (QS. Al Ahqaf: 5)
Allah ta'ala adalah Dzat yang Maha Kaya dan Kuasa untuk mengabulkan
permintaan seluruh hamba-Nya. Tidaklah akan mengurangi kekuasaan Allah
sedikitpun seandainya Allah ta'ala memenuhi seluruh permintaan
hambanya, kecuali hanya bagaikan berkurangnya air laut tatkala sebuah
jarum dicelupkan ke dalamnya, artinya yang hilang itu tidak teranggap
sama sekali. Maka hendaklah setiap muslim hanya mengadu dan berdo'a
kepada Allah ta'ala dalam seluruh perkara yang dia hadapi.
Mengapa Do'aku Tidak Kunjung Dikabulkan[?]
Banyak orang berdo'a kepada Allah ta'ala, akan tetapi banyak di antara
mereka merasa do'anya tidak dikabulkan. Hal semacam ini sering menimpa
kaum muslimin pada umumnya. Mereka berharap do'a yang dia panjatkan
dapat segera terealisasi. Inilah yang disebut dengan "tergesa-gesa
dalam berdo'a". Seorang muslim sudah sepatutnya menghindari sikap
semacam ini, karena sikap tersebut merupakan salah satu penghalang
terkabulnya do'a. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,
"Akan dikabulkan do'a salah seorang di antara kalian selama tidak
tergesa-gesa dalam berdo'a." Kemudian beliau ditanya, "Wahai
Rasulullah bagaimanakah bentuk tergesa-gesa dalam berdo'a?" Beliau
menjawab, "Seseorang yang berdo'a kemudian mengatakan, "Aku telah
berdo'a kepada Allah tetapi Allah tidak segera mengabulkan do'aku".
(Sunan Ibnu Majah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
shahih)
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh do'a yang baik,
hakikatnya dikabulkan oleh Allah ta'ala, akan tetapi dengan bentuk
pengabulan yang bermacam-macam, terkadang Allah langsung memberikan
apa yang diminta atau terkadang Allah memberikan pengganti yang
serupa, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam,
"Tidaklah seorang muslim berdo'a dengan do'a yang tidak mengandung
dosa di dalamnya, tidak pula do'a yang memutus silaturahmi, melainkan
Allah ta'ala akan memberikan satu di antara tiga hal: mungkin Allah
akan merealisasikan do'a tersebut, atau mungkin dengan do'a tersebut
Allah akan menyelamatkannya kelak di akhirat, atau mungkin Allah akan
menghilangkan dari diri orang tersebut kesulitan yang semisal". (HR.
Ahmad, derajatnya hasan shohih) (Lihat Fathul Baari, 18/55)
Bersungguh-Sungguh dalam Berdo'a Kepada Allah Ta'ala
Salah satu tata cara do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu
'alaihi wa salam adalah bersungguh-sungguh dalam berdo'a kepada Allah
ta'ala. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Jika salah
seorang di antara kalian berdo'a, maka janganlah katakan: Ya Allah,
ampunilah aku jika Engkau menghendaki, akan tetapi
bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a, dan perbesarlah harapan, karena
Allah tidak akan merasa keberatan dengan sesuatu yang Dia berikan
kepada hamba-Nya". (HR. Muslim. no.2679)
Hendaklah seorang muslim berdo'a kepada Allah ta'ala dengan do'a yang
mencakup seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebagian orang
berdo'a kepada Allah meminta kebaikan yang sangat terbatas, sebagian
mereka berdo'a, "Ya Allah berikanlah kepadaku ini dan itu", ataupun
do'a yang semisalnya, yang hanya bersifat materi dan duniawi. Lihatlah
bagaimana bentuk do'a yang diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
salam, dan beliau senantiasa mengulang-ulang do'a ini pada setiap
kesempatan, "Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksaan api neraka". (HR.
Muslim)
Salah satu cara bersungguh-sungguh dalam dalam berdo'a adalah memahami
do'a yang diucapkan. Sebagian orang lalai dari memahami dan mengerti
makna do'a yang diucapkan. Seakan-akan keluar dari mulut mereka
lafadz-lafadz do'a berbahasa arab, sementara hati-hati mereka kosong
akan makna do'a tersebut. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
salam bersabda, "Berdo'alah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin
akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak menerima do'a dari hati
yang lalai". (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdo'a
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam telah menjelaskan tentang
waktu-waktu yang mustajab untuk berdo'a. Di antaranya adalah saat
sepertiga akhir malam, beliau bersabda, "Sesungguhnya Rabb kami
tabaraka wa ta'ala turun setiap malam turun ke langit dunia, hingga
tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Allah berfirman (yang
artinya): Barangsiapa yang berdo'a, maka akan Aku kabulkan;
barangsiapa yang meminta, akan Aku beri; dan barangsiapa yang meminta
ampun, Aku akan mengampuninya" (HR. Bukhari)
Waktu yang lainnya adalah waktu-waktu di antara adzan dan iqamah.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Do'a antara adzan
dan iqamah tidak akan ditolak". (HR.Abu Daud, Syaikh Al Albani menilai
shahih)
Di antara waktu lain yang mustajab untuk berdo'a adalah ketika sujud,
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Saat terdekat
seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka ketika itu
perbanyaklah do'a" (HR. Muslim)
Dan waktu-waktu lainnya yang terdapat keterangannya dalam hadits
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam.
Menjauhi Perkara-Perkara yang Diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
Salah satu penghalang terkabulnya do'a seorang hamba adalah
bergelimangnya hamba tersebut dengan benda-benda dan harta yang
diharamkan oleh Allah ta'ala. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam
pernah mengisahkan seorang laki-laki yang menempuh suatu perjalanan
jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tanganya ke
langit (berdo'a kepada Allah) : Ya Rabbi, Ya Rabbi. Padahal makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia tumbuh dengan harta
yang haram. Kemudian beliau mengatakan: Bagaimana mungkin do'anya bisa
dikabulkan? (HR. Muslim) Syaikh 'Abdurrazaq Al Badr hafidzohullah
menjelaskan bahwa hadits ini juga mengisyaratkan bahwa seorang yang
berdo'a hendaklah menjauhi kemaksiatan dan segera bertaubat dari
kemaksiatan yang dilakukan. (Rekaman ceramah Syaikh 'Abdurrazaq bin
Abdul Muhsin Al Badr dengan judul Fiqhu Ad Du'a)
Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a
Mengangkat tangan dalam berdo'a merupakan salah satu tuntutan dalam
agama ini. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,
"Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, malu dari
hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (berdo'a) kepada-Nya
kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya." (HR.
Muslim)
Tidak diragukan lagi bahwa berdo'a dengan mengangkat tangan adalah
disyariatkan bahkan merupakan sebab terkabulkannya do'a. Akan tetapi
hal ini menyisakan sebuah pertanyaan, apakah mengangkat tangan
disyariatkan dalam setiap do'a?
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa
do'a dalam masalah mengangkat tangan dirinci menjadi tiga rincian.
Yang pertama adalah do'a yang disyariatkan untuk mengangkat tangan,
semacam do'a istisqa' (do'a meminta hujan), maka pada do'a ini
disunnahkan mengangkat tangan. Kedua, do'a yang tidak disyariatkan
untuk mengangkat tangan, semisal do'a-do'a di dalam sholat, seperti
do'a ketika sujud dan do'a setelah tasyahud, maka terlarang mengangkat
tangan pada keadaan ini. Ketiga, do'a yang tidak ada keterangan,
apakah mengangkat tangan ataukah tidak, maka do'a semacam ini kembali
kepada hukum asal adab berdo'a, yaitu mengangkat tangan. (Lihat Syarah
Arbain Nawawiyah, Ibnu Utsaimin, hal. 173)
Syaikh Ali Hasan Al Halaby hafidzohullahu meringkas, tentang masalah
mengangkat tangan ketika berdo'a. Intinya, ada tiga keadaan di mana
seseorang disyariatkan mengangkat tangan ketika berdo'a. Pertama
adalah ketika do'a istisqa' (do'a meminta hujan). Kedua adalah ketika
do'a qunut dan yang ketiga adalah ketika berdo'a dengan do'a mas'alah
(do'a meminta sesuatu kepada Allah). Jenis do'a yang ketiga ini, yaitu
do'a mas'alah tidak terikat dengan waktu maupun tempat, bisa jadi
ketika tengah malam, pagi hari, siang hari, di masjid, di rumah atau
yang lainnya.
Dalilnya adalah hadits yang telah lewat tentang disyariatkan
mengangkat tangan ketika berdo'a, do'a dalam hadits tersebut adalah
do'a mas'alah. Sehingga berdo'a selain do'a mas'alah (meminta sesuatu)
tidaklah disyariatkan untuk mengangkat tangan, semisal do'a masuk
masjid, do'a keluar masjid, do'a memakai pakaian dan yang semisalnya,
maka do'a-do'a semacam ini tidak disyariatkan mengangkat tangan.
(Diringkas dari rekaman ceramah Syaikh Ali Hasan Al Halaby berjudul Ad
Du'a wa Atsaruhu)
Bagaimanakah jika Seseorang Berdo'a dengan Selain Bahasa Arab?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang hukum
berdo'a dalam sholat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.
Beliau menjelaskan, adapun berdo'a secara umum (do'a di luar sholat),
maka boleh dengan bahasa apapun selain bahasa Arab, terlebih lagi jika
orang tersebut menjadi lebih tahu dan mantap dengan do'a yang dia
panjatkan. Karena sesungguhnya Allah ta'ala Maha Mengetahui maksud dan
keinginan orang yang berdo'a kepada-Nya. (Majmu' Al Fatawa 22/488-489)
Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa berdo'a dengan do'a yang
disyari'atkan, sebagaimana tercantum dalam Al Quran dan As Sunnah
adalah lebih utama. Lafadz-lafadz do'a yang diajarkan oleh Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa salam adalah lafadz do'a yang paling utama. Oleh
karena itu, hendaklah seorang muslim senatiasa berusaha untuk berdo'a
dengan do'a-do'a yang disyariatkan, yaitu do'a yang terdapat dalam Al
Quran dan As Sunnah. (Majmu' Al Fatawa, 1/346-348).
Demikianlah apa yang dapat kami nukilkan dari penjelasan para ulama.
Semoga dapat memberikan manfaat. Semoga Allah ta'ala menerima setiap
amal ibadah dan mengabulkan setiap do'a kita. Innallaha mujibud du'at.
Wallahu ta'ala a'lam bi showab. [Hanif Nur Fauzi]
Article taken from Buletin At-Tauhid - http://buletin.muslim.or.id
URL to article:
http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/sesungguhnya-allah-mendengar-doa-hamba-nya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar