Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2009

Rahasia di Balik Sakit

Rahasia di Balik Sakit
diposting oleh Muslim.or.id pada tanggal February 23, 2009 (2:19 pm)
di kategori Akhlaq dan Nasehat

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian
merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam
kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula
pada perkara yang menyenangkannya. Allah ta'ala berfirman yang
artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan
mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS.
al-Anbiyaa': 35). Sahabat Ibnu 'Abbas -yang diberi keluasan ilmu
dalam tafsir al-Qur'an- menafsirkan ayat ini: "Kami akan menguji
kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit,
kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan,
petunjuk dan kesesatan." (Tafsir Ibnu Jarir). Dari ayat ini, kita
tahu bahwa berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan
Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini,
terdapat berbagai rahasia/hikmah yang tidak dapat di nalar oleh akal
manusia.

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua
urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi
orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan
itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia
bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas
kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati,
pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu.
Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah
dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta'ala, "Dan apa saja musibah
yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)." (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit
yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan
sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan
dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,"
Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya
(dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam
sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR.
Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki
penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka
pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai
saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api
Neraka." (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan
mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah
agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat
wal 'afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa
nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh
karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah,
dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan
Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia
kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah
ta'ala berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
(para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka
dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka
memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An'am:
42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah
kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan
cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan
berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat
hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul
Qoyyim rahimahullah berikut ini: "Andaikata kita bisa menggali hikmah
Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang
dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, -ed). Namun akal kita
sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua
makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana
sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari." (Lihat Do'a dan
Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan
Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Sesungguhnya Allah ta'ala jika mencintai suatu kaum, maka
Dia akan memberi mereka cobaan." (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah,
anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan
meringankan segala musibah dunia ini. Amin.

***

Penulis: Abu Hasan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Artikel diambil dari Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
- http://muslim.or.id
Silakan kunjungi alamat lengkap artikel ini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/rahasia-sakit.html

Bersabarlah Wahai Saudaraku...

Bersabarlah Wahai Saudaraku...
diposting oleh Muslim.or.id pada tanggal October 20, 2008 (10:09 pm)
di kategori Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus

Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang
merupakan tanda kebahagiaan, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia
bersyukur, bila mendapat cobaan maka dia bersabar dan bila berbuat
dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang
muslim. Bagaimanapun keadaannya dia tetap masih bisa menuai pahala.

Betapa Mulianya Sabar

Diantara ketiga keadaan ini datangnya cobaan demi cobaan terkadang
membuat hati kita mendongkol, lisan menggerutu dan tangan melayang
lempar sana, lempar sini, tonjok kanan tonjok kiri. Lalu apa hasilnya?
Ingatlah saudaraku semoga Alloh merahmatimu, sesungguhnya Alloh
menjanjikan kebersamaan-Nya yang istimewa bagi orang-orang yang mau
bersabar. Alloh Ta'ala berfirman, "Dan bersabarlah kalian sesunguhnya
Alloh bersama orang-orang yang sabar." (Al Anfal: 46). Inilah
kebersamaan khusus yang Alloh janjikan berupa penjagaan, pertolongan
dan pembelaan di saat yang dibutuhkan. Bahkan dengan kesabaran jugalah
kepemimpinan dalam agama bisa diraih. Alloh Ta'ala berfirman, "Dan
Kami telah menjadikan pemimpin-pemimpin di kalangan mereka (Bani
Isro'il) yang membimbing dengan petunjuk dari Kami tatkala mereka mau
bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami." (As Sajdah: 24).
Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Dengan sabar dan
yakin itulah akan bisa diraih imamah/kepemimpinan dalam ad dien."

Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para
Rosul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Alloh Ta'ala
berfirman, "Sungguh para Rosul sebelum engkau (Muhammad) telah
didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan
mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami." (Al An'am: 34).
Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rosul bersabda,
"Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran."
(Arba'in no. 19)

Pengertian Sabar dan Macam-Macamnya

Sabar adalah menahan jiwa dari mendongkol, menahan lisan dari berkeluh
kesah dan marah serta menahan anggota badan dari melakukan
perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti menampar-nampar pipi atau
merobek-robek kerah baju (Al Jadid fi Syarhi Kitab At Tauhid, hlm.
314). Sabar ada tiga macam; (1) Sabar dalam ketaatan, (2) Sabar dalam
menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan (3) Sabar dalam menghadapi
takdir Alloh yang terasa menyakitkan.

Di antara ketiga macam sabar ini, sabar dalam ketaatan adalah macam
sabar yang tertinggi. Namun adakalanya bersabar dalam menahan diri
dari kemaksiatan justeru lebih berat daripada bersabar dalam ketaatan.
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan, Seperti misalnya cobaan yang menimpa
seorang laki-laki berupa godaan wanita cantik yang mengajaknya untuk
berzina di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun selain Alloh,
sementara laki-laki ini masih muda dan memendam syahwat dalam dirinya.
Maka bersabar agar tidak terjatuh dalam maksiat seperti ini menjadi
lebih sulit bagi jiwanya. Bisa jadi mengerjakan sholat seratus rokaat
itu lebih ringan baginya daripada harus menghadapi beratnya ujian
semacam ini. (Al Qoulul Mufid, Syaikh Al Utsaimin)

Alloh Ta'ala berfirman, "Alloh mencintai orang-orang yang sabar." (Ali
Imron: 146). Ujian demi ujian hendaknya justeru menempa kepribadian
kita agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Alloh Ta'ala, yang
bersyukur bila mendapat nikmat, bertaubat bila berdosa dan bersabar
dalam ketaatan, dalam menghindari maksiat dan tatkala menghadapi
musibah. Wallohul musta'aan.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Artikel diambil dari Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
- http://muslim.or.id
Silakan kunjungi alamat lengkap artikel ini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bersabarlah-wahai-saudaraku.html

Jumat, 31 Juli 2009

Sesungguhnya Allah Mendengar Do'a Hamba-Nya

---------- Forwarded message ----------
From: Nunu Nugraha <nunos82@gmail.com>
Date: Fri, 31 Jul 2009 11:42:59 +0000
Subject: Fwd: Recommended Article By Nunu: Sesungguhnya Allah
Mendengar Do'a Hamba-Nya
To: Nunos_82.yumna@blogger.com

---------- Forwarded message ----------
From: Nunu <Nunos_82@yahoo.co.id>
Date: Thu, 30 Jul 2009 21:32:35 -0700
Subject: Recommended Article By Nunu: Sesungguhnya Allah Mendengar
Do'a Hamba-Nya
To: Nunos82@gmail.com

Hi Nugraha,
Your friend, Nunu, has recommended this article entitled 'Sesungguhnya
Allah Mendengar Do'a Hamba-Nya' to you.

Here is his/her remarks:
Buletin

Sesungguhnya Allah Mendengar Do'a Hamba-Nya
Posted By admin On 16 July 2009 (10:03) In At Tauhid Tahun V, Tazkiyatun Nufus

At Tauhid edisi V/29

Oleh: Hanif Nur Fauzi
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala, do'a
merupakan bentuk ibadah yang paling agung di sisi Allah ta'ala.
Diriwayatkan dari shahabat Nu'man bin Basyir radhiyallahu'anhu bahwa
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Do'a adalah ibadah",
kemudian setelah itu beliau membaca ayat "Berdo'alah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam
keadaan hina dina" (QS. Ghafir: 60) (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam
Adabul Mufrad no.714)
Di dalam hadits lain Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda
tentang keutamaan do'a, "Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi
Allah ta'ala selain do'a" (HR. Ahmad no. 8733. Syu'iab Al Arnauth
berkata bahwa hadits ini hasan)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam menyebutkan bahwa do'a adalah
ibadah, artinya, do'a adalah rukun utama dalam ibadah kepada Allah
ta'ala. Oleh karena itu, barang siapa yang enggan dan malas-malasan
dalam beribadah, dapat dipastikan bahwa orang tersebut enggan untuk
berdo'a dan memohon hidayah kepada Allah ta'ala . (Lihat Fathul Baari,
18/55)
Do'a merupakan kunci dari segala macam kebaikan. Seorang hamba tidak
akan mampu untuk melaksakan ketaatan kepada Allah ta'ala melainkan
dengan taufiq dan hidayah dari Allah ta'ala. Taufiq dan hidayah Allah
tidak lepas dari do'a seorang hamba kepada Rabb-nya. Oleh karena itu,
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam mengajarkan sebuah do'a kepada
Mua'dz bin Jabal radhiyallahu'anhu agar dibaca setiap selesai sholat
"Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik" [Ya
Allah, bantulah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur
kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu]". (Sunan Abu Daud,
1522. Syaikh Al Albani berkata hadist ini shohih)
Allah ta'ala menjanjikan akan mengabulkan do'a setiap hamba-Nya dan
Allah ta'ala tidak akan menyelisihi janjinya. Bahkan Allah ta'ala akan
marah ketika ada seorang hamba yang enggan berdo'a kepada-Nya.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Barangsiapa yang
tidak mau berdo'a kepada Allah ta'ala, maka Allah murka kepadanya"
(HR. Tirmidzi no.3373. Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan). Ath
Thibiy rahimahullah mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa Allah
ta'ala sangat senang ketika seorang hamba berdo'a kepada Allah ta'ala.
(Lihat Fathul Baari, 18/55)
Berdo'alah Hanya Kepada Allah Ta'ala
Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta'ala, do'a merupakan salah
satu bentuk ibadah kepada-Nya, dan ibadah hanyalah hak mutlak Allah
ta'ala, tidak ada satu pun bentuk ibadah dari seorang hamba yang boleh
ditujukan kepada selain Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman (yang
artinya), "Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang berdo'a
kepada selain Allah, tidak ada yang dapat memperkenankan do'anya
sampai hari kiamat, dan mereka adalah orang-orang yang lalai dari do'a
mereka" (QS. Al Ahqaf: 5)
Allah ta'ala adalah Dzat yang Maha Kaya dan Kuasa untuk mengabulkan
permintaan seluruh hamba-Nya. Tidaklah akan mengurangi kekuasaan Allah
sedikitpun seandainya Allah ta'ala memenuhi seluruh permintaan
hambanya, kecuali hanya bagaikan berkurangnya air laut tatkala sebuah
jarum dicelupkan ke dalamnya, artinya yang hilang itu tidak teranggap
sama sekali. Maka hendaklah setiap muslim hanya mengadu dan berdo'a
kepada Allah ta'ala dalam seluruh perkara yang dia hadapi.
Mengapa Do'aku Tidak Kunjung Dikabulkan[?]
Banyak orang berdo'a kepada Allah ta'ala, akan tetapi banyak di antara
mereka merasa do'anya tidak dikabulkan. Hal semacam ini sering menimpa
kaum muslimin pada umumnya. Mereka berharap do'a yang dia panjatkan
dapat segera terealisasi. Inilah yang disebut dengan "tergesa-gesa
dalam berdo'a". Seorang muslim sudah sepatutnya menghindari sikap
semacam ini, karena sikap tersebut merupakan salah satu penghalang
terkabulnya do'a. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,
"Akan dikabulkan do'a salah seorang di antara kalian selama tidak
tergesa-gesa dalam berdo'a." Kemudian beliau ditanya, "Wahai
Rasulullah bagaimanakah bentuk tergesa-gesa dalam berdo'a?" Beliau
menjawab, "Seseorang yang berdo'a kemudian mengatakan, "Aku telah
berdo'a kepada Allah tetapi Allah tidak segera mengabulkan do'aku".
(Sunan Ibnu Majah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
shahih)
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa seluruh do'a yang baik,
hakikatnya dikabulkan oleh Allah ta'ala, akan tetapi dengan bentuk
pengabulan yang bermacam-macam, terkadang Allah langsung memberikan
apa yang diminta atau terkadang Allah memberikan pengganti yang
serupa, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam,
"Tidaklah seorang muslim berdo'a dengan do'a yang tidak mengandung
dosa di dalamnya, tidak pula do'a yang memutus silaturahmi, melainkan
Allah ta'ala akan memberikan satu di antara tiga hal: mungkin Allah
akan merealisasikan do'a tersebut, atau mungkin dengan do'a tersebut
Allah akan menyelamatkannya kelak di akhirat, atau mungkin Allah akan
menghilangkan dari diri orang tersebut kesulitan yang semisal". (HR.
Ahmad, derajatnya hasan shohih) (Lihat Fathul Baari, 18/55)
Bersungguh-Sungguh dalam Berdo'a Kepada Allah Ta'ala
Salah satu tata cara do'a yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu
'alaihi wa salam adalah bersungguh-sungguh dalam berdo'a kepada Allah
ta'ala. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Jika salah
seorang di antara kalian berdo'a, maka janganlah katakan: Ya Allah,
ampunilah aku jika Engkau menghendaki, akan tetapi
bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a, dan perbesarlah harapan, karena
Allah tidak akan merasa keberatan dengan sesuatu yang Dia berikan
kepada hamba-Nya". (HR. Muslim. no.2679)
Hendaklah seorang muslim berdo'a kepada Allah ta'ala dengan do'a yang
mencakup seluruh kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebagian orang
berdo'a kepada Allah meminta kebaikan yang sangat terbatas, sebagian
mereka berdo'a, "Ya Allah berikanlah kepadaku ini dan itu", ataupun
do'a yang semisalnya, yang hanya bersifat materi dan duniawi. Lihatlah
bagaimana bentuk do'a yang diajarkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
salam, dan beliau senantiasa mengulang-ulang do'a ini pada setiap
kesempatan, "Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksaan api neraka". (HR.
Muslim)
Salah satu cara bersungguh-sungguh dalam dalam berdo'a adalah memahami
do'a yang diucapkan. Sebagian orang lalai dari memahami dan mengerti
makna do'a yang diucapkan. Seakan-akan keluar dari mulut mereka
lafadz-lafadz do'a berbahasa arab, sementara hati-hati mereka kosong
akan makna do'a tersebut. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wa
salam bersabda, "Berdo'alah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin
akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak menerima do'a dari hati
yang lalai". (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdo'a
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam telah menjelaskan tentang
waktu-waktu yang mustajab untuk berdo'a. Di antaranya adalah saat
sepertiga akhir malam, beliau bersabda, "Sesungguhnya Rabb kami
tabaraka wa ta'ala turun setiap malam turun ke langit dunia, hingga
tersisa sepertiga malam terakhir, kemudian Allah berfirman (yang
artinya): Barangsiapa yang berdo'a, maka akan Aku kabulkan;
barangsiapa yang meminta, akan Aku beri; dan barangsiapa yang meminta
ampun, Aku akan mengampuninya" (HR. Bukhari)
Waktu yang lainnya adalah waktu-waktu di antara adzan dan iqamah.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Do'a antara adzan
dan iqamah tidak akan ditolak". (HR.Abu Daud, Syaikh Al Albani menilai
shahih)
Di antara waktu lain yang mustajab untuk berdo'a adalah ketika sujud,
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Saat terdekat
seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, maka ketika itu
perbanyaklah do'a" (HR. Muslim)
Dan waktu-waktu lainnya yang terdapat keterangannya dalam hadits
Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam.
Menjauhi Perkara-Perkara yang Diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
Salah satu penghalang terkabulnya do'a seorang hamba adalah
bergelimangnya hamba tersebut dengan benda-benda dan harta yang
diharamkan oleh Allah ta'ala. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam
pernah mengisahkan seorang laki-laki yang menempuh suatu perjalanan
jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tanganya ke
langit (berdo'a kepada Allah) : Ya Rabbi, Ya Rabbi. Padahal makanannya
haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia tumbuh dengan harta
yang haram. Kemudian beliau mengatakan: Bagaimana mungkin do'anya bisa
dikabulkan? (HR. Muslim) Syaikh 'Abdurrazaq Al Badr hafidzohullah
menjelaskan bahwa hadits ini juga mengisyaratkan bahwa seorang yang
berdo'a hendaklah menjauhi kemaksiatan dan segera bertaubat dari
kemaksiatan yang dilakukan. (Rekaman ceramah Syaikh 'Abdurrazaq bin
Abdul Muhsin Al Badr dengan judul Fiqhu Ad Du'a)
Mengangkat Tangan Ketika Berdo'a
Mengangkat tangan dalam berdo'a merupakan salah satu tuntutan dalam
agama ini. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,
"Sesungguhnya Rabbmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia, malu dari
hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangannya (berdo'a) kepada-Nya
kemudian menariknya kembali dalam keadaan hampa kedua tangannya." (HR.
Muslim)
Tidak diragukan lagi bahwa berdo'a dengan mengangkat tangan adalah
disyariatkan bahkan merupakan sebab terkabulkannya do'a. Akan tetapi
hal ini menyisakan sebuah pertanyaan, apakah mengangkat tangan
disyariatkan dalam setiap do'a?
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al 'Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa
do'a dalam masalah mengangkat tangan dirinci menjadi tiga rincian.
Yang pertama adalah do'a yang disyariatkan untuk mengangkat tangan,
semacam do'a istisqa' (do'a meminta hujan), maka pada do'a ini
disunnahkan mengangkat tangan. Kedua, do'a yang tidak disyariatkan
untuk mengangkat tangan, semisal do'a-do'a di dalam sholat, seperti
do'a ketika sujud dan do'a setelah tasyahud, maka terlarang mengangkat
tangan pada keadaan ini. Ketiga, do'a yang tidak ada keterangan,
apakah mengangkat tangan ataukah tidak, maka do'a semacam ini kembali
kepada hukum asal adab berdo'a, yaitu mengangkat tangan. (Lihat Syarah
Arbain Nawawiyah, Ibnu Utsaimin, hal. 173)
Syaikh Ali Hasan Al Halaby hafidzohullahu meringkas, tentang masalah
mengangkat tangan ketika berdo'a. Intinya, ada tiga keadaan di mana
seseorang disyariatkan mengangkat tangan ketika berdo'a. Pertama
adalah ketika do'a istisqa' (do'a meminta hujan). Kedua adalah ketika
do'a qunut dan yang ketiga adalah ketika berdo'a dengan do'a mas'alah
(do'a meminta sesuatu kepada Allah). Jenis do'a yang ketiga ini, yaitu
do'a mas'alah tidak terikat dengan waktu maupun tempat, bisa jadi
ketika tengah malam, pagi hari, siang hari, di masjid, di rumah atau
yang lainnya.
Dalilnya adalah hadits yang telah lewat tentang disyariatkan
mengangkat tangan ketika berdo'a, do'a dalam hadits tersebut adalah
do'a mas'alah. Sehingga berdo'a selain do'a mas'alah (meminta sesuatu)
tidaklah disyariatkan untuk mengangkat tangan, semisal do'a masuk
masjid, do'a keluar masjid, do'a memakai pakaian dan yang semisalnya,
maka do'a-do'a semacam ini tidak disyariatkan mengangkat tangan.
(Diringkas dari rekaman ceramah Syaikh Ali Hasan Al Halaby berjudul Ad
Du'a wa Atsaruhu)
Bagaimanakah jika Seseorang Berdo'a dengan Selain Bahasa Arab?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang hukum
berdo'a dalam sholat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.
Beliau menjelaskan, adapun berdo'a secara umum (do'a di luar sholat),
maka boleh dengan bahasa apapun selain bahasa Arab, terlebih lagi jika
orang tersebut menjadi lebih tahu dan mantap dengan do'a yang dia
panjatkan. Karena sesungguhnya Allah ta'ala Maha Mengetahui maksud dan
keinginan orang yang berdo'a kepada-Nya. (Majmu' Al Fatawa 22/488-489)
Akan tetapi, tidak diragukan lagi bahwa berdo'a dengan do'a yang
disyari'atkan, sebagaimana tercantum dalam Al Quran dan As Sunnah
adalah lebih utama. Lafadz-lafadz do'a yang diajarkan oleh Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa salam adalah lafadz do'a yang paling utama. Oleh
karena itu, hendaklah seorang muslim senatiasa berusaha untuk berdo'a
dengan do'a-do'a yang disyariatkan, yaitu do'a yang terdapat dalam Al
Quran dan As Sunnah. (Majmu' Al Fatawa, 1/346-348).
Demikianlah apa yang dapat kami nukilkan dari penjelasan para ulama.
Semoga dapat memberikan manfaat. Semoga Allah ta'ala menerima setiap
amal ibadah dan mengabulkan setiap do'a kita. Innallaha mujibud du'at.
Wallahu ta'ala a'lam bi showab. [Hanif Nur Fauzi]

Article taken from Buletin At-Tauhid - http://buletin.muslim.or.id
URL to article:
http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/sesungguhnya-allah-mendengar-doa-hamba-nya

Titik Terdekat Kita dengan Allah Ta'ala

Saudaraku
Ada banyak sarana dan jalan yang bisa kita tempuh untuk dekat kepada Allah Ta'ala,salah satunya adalah sujud.“Wasjud waqtarib.” Dan sujudlah,dan dekatlah pada Allah.”(QS.Al Alaq :19)
Maka,sujudlah dan mintalah kepada Allah,apa saja kebaikan yang kita inginkan.karena saat sujud kita berada dititik terakhir yang paling dekat dengan Allah.“posisi seorang hamba yg paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika ia dalam posisi sujud.”(HR Muslim)
Saudaraku.
Sujud adalah simbol ketundukan,ketaatan,kepasrahan kita kepada Allah Ta'ala.hancurkanlah sekecil apapun kesombongan kita,karena kita tak mempunyai nilai apapun dihadapan Allah azza wa jalla.
Saudaraku.
Sujud menjadi keistimewaan hamba-hamba Allah Ta'ala yg taat seperti dalam firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Fath:28,“...Di wajah mereka tampak atsar sujud(bekas-bekas sujud)...”
Sujud juga bisa menaikan derajat dan menghapus kesalahan-kesalahan seorang hamba dihadapan Allah Ta'ala.“Tidaklah seorang muslim sujud kepada Allah satu kali sujud,kecuali Allah akan angkat derajatnya dan akan Allah hapuskan kesalahannya.” sujud juga akan menjadi tanda pengenal kita dihari kiamat.“...sesungguhnya muka umat-ku pada hari itu putih ber seri-seri karena mereka sujud (didunia) dan anggota tubuh mereka bercahaya karena(cahaya) wudhu.”(HR Ahmad)
Ingat Saudaraku.
Jika kita menginginkan ketenangan dan ketentraman.jika kita merasa telah banyak melakukan dosa,segeralah bersujud.karena sujud kita didunia akan melindungi kita diakhirat.“semua manusia akan dilahap api neraka kecuali bekas-bekas sujud.”(HR Bukhori)
Saudaraku.
Maka,ketika kerinduan kita menguat kepada Allah Ta'ala.Datanglah menghadap Allah,dan sujudlah...
Di saat kita terseret oleh arus dunia.tenggelam dan terbawa oleh gelombang kesibukan dan gemerlapnya dunia.Datanglah mendekat kepada Allah,dan sujudlah...
Ketika kita terbentur oleh banyak ujian hingga jiwa kita terombang-ambing oleh tekanan hidup,dan kita ingin melepaskan diri dan keluar dari kesulitan itu.berpeganglah kepada Allah,dan sujudlah...

Rintihan Penghuni Neraka

Suatu hari,Salam bin Abi Muthi' memberi al-Hasan segelas air untuk berbuka shaum.ketika beliau hendak meminumnya,tiba-tiba beliau menangis sembari berkata,“Aku teringat akan rintihan penghuni neraka yg disebutkan Allah Ta'ala,“Dan penghuni neraka menyeru penghuni jannah,'limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yg telah direzkikan Allah kepadamu.'dan aku juga teringat akan jawaban penduduk jannah,'sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir'.”(QS.al-A'raaf:50)
Duhai celakanya penghuni neraka,bergulat dengan api yg panas,gelap pekat,tersekap dan penuh asap karena neraka itu tertutup rapat.bersamaan dengan itu,tak ada yg mereka makan selain duri,tak ada yg mereka minum selain hamim,air yg mencapai puncak panasnya.
Ya Allah,jauhkanlah kami dari neraka.Amien.