diposting oleh Muslim.or.id pada tanggal October 20, 2008 (10:09 pm)
di kategori Akhlaq dan Nasehat, Tazkiyatun Nufus
Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang
merupakan tanda kebahagiaan, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia
bersyukur, bila mendapat cobaan maka dia bersabar dan bila berbuat
dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang
muslim. Bagaimanapun keadaannya dia tetap masih bisa menuai pahala.
Betapa Mulianya Sabar
Diantara ketiga keadaan ini datangnya cobaan demi cobaan terkadang
membuat hati kita mendongkol, lisan menggerutu dan tangan melayang
lempar sana, lempar sini, tonjok kanan tonjok kiri. Lalu apa hasilnya?
Ingatlah saudaraku semoga Alloh merahmatimu, sesungguhnya Alloh
menjanjikan kebersamaan-Nya yang istimewa bagi orang-orang yang mau
bersabar. Alloh Ta'ala berfirman, "Dan bersabarlah kalian sesunguhnya
Alloh bersama orang-orang yang sabar." (Al Anfal: 46). Inilah
kebersamaan khusus yang Alloh janjikan berupa penjagaan, pertolongan
dan pembelaan di saat yang dibutuhkan. Bahkan dengan kesabaran jugalah
kepemimpinan dalam agama bisa diraih. Alloh Ta'ala berfirman, "Dan
Kami telah menjadikan pemimpin-pemimpin di kalangan mereka (Bani
Isro'il) yang membimbing dengan petunjuk dari Kami tatkala mereka mau
bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami." (As Sajdah: 24).
Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Dengan sabar dan
yakin itulah akan bisa diraih imamah/kepemimpinan dalam ad dien."
Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para
Rosul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Alloh Ta'ala
berfirman, "Sungguh para Rosul sebelum engkau (Muhammad) telah
didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan
mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami." (Al An'am: 34).
Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rosul bersabda,
"Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran."
(Arba'in no. 19)
Pengertian Sabar dan Macam-Macamnya
Sabar adalah menahan jiwa dari mendongkol, menahan lisan dari berkeluh
kesah dan marah serta menahan anggota badan dari melakukan
perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti menampar-nampar pipi atau
merobek-robek kerah baju (Al Jadid fi Syarhi Kitab At Tauhid, hlm.
314). Sabar ada tiga macam; (1) Sabar dalam ketaatan, (2) Sabar dalam
menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan (3) Sabar dalam menghadapi
takdir Alloh yang terasa menyakitkan.
Di antara ketiga macam sabar ini, sabar dalam ketaatan adalah macam
sabar yang tertinggi. Namun adakalanya bersabar dalam menahan diri
dari kemaksiatan justeru lebih berat daripada bersabar dalam ketaatan.
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan, Seperti misalnya cobaan yang menimpa
seorang laki-laki berupa godaan wanita cantik yang mengajaknya untuk
berzina di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun selain Alloh,
sementara laki-laki ini masih muda dan memendam syahwat dalam dirinya.
Maka bersabar agar tidak terjatuh dalam maksiat seperti ini menjadi
lebih sulit bagi jiwanya. Bisa jadi mengerjakan sholat seratus rokaat
itu lebih ringan baginya daripada harus menghadapi beratnya ujian
semacam ini. (Al Qoulul Mufid, Syaikh Al Utsaimin)
Alloh Ta'ala berfirman, "Alloh mencintai orang-orang yang sabar." (Ali
Imron: 146). Ujian demi ujian hendaknya justeru menempa kepribadian
kita agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Alloh Ta'ala, yang
bersyukur bila mendapat nikmat, bertaubat bila berdosa dan bersabar
dalam ketaatan, dalam menghindari maksiat dan tatkala menghadapi
musibah. Wallohul musta'aan.
***
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id
Artikel diambil dari Muslim.or.id: Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
- http://muslim.or.id
Silakan kunjungi alamat lengkap artikel ini:
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bersabarlah-wahai-saudaraku.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar